Keteladanan Orang Tua

Keteladanan berasal dari kata teladan yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna  “sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh.” Dengan demikian, keteladanan berarti  hal yg dapat ditiru atau dicontoh.

Keteladanan adalah cara memimpin yang paling efektif. Metode membimbing yang paling tidak diragukan lagi kekuatannya. Allah meminta umat Islam agar meneladani perilaku Rasulullah (QS Al Ahzab 33:21). Perintah Al Quran ini secara tersirat dapat juga dimaknai bahwa cara memimpin yang baik dan efektif adalah dengan cara memberi keteladanan, bukan hanya perkataan.  Di ayat lain Al Quran juga mengingatkan, bahwa pemimpin yang ideal dan sukses selalu berusaha menyelaraskan perkataan dengan perbuatannya (QS As Shaf 61:3).

Kalau keteladanan mutlak diperlukan dalam memimpin dan mendidik orang dewasa, maka  ia semakin mutlak diperlukan sebagai metode dalam mendidik dan menuntun anak ke arah kebaikan yang kita inginkan. Karena, anak ibarat kertas putih bersih. Orang-orang dewasa di sekitarnyalah yang akan “melukis” aneka gambar di dalamnya. Terutama, dalam hal ini, adalah orang tua.

Oleh karena itu, saat orang tua melihat anaknya berperilaku dan bersikap tidak sesuai dengan yang diinginkan maka hal pertama yang perlu dipertanyakan adalah sudahkah orang tua memberi keteladanan yang benar pada anaknya?  Apabila dirasa tidak ada yang salah dengan keteladanan orang tua maka yang perlu dilihat berikutnya adalah keteladanan lingkungan di sekitarnya. Seperti, keteladanan tetangga, teman-teman sekolah dan tontonan yang dilihat di TV.

Tentu  setiap orang tua mengetahui apa saja perilaku baik yang patut diteladankan pada anak dan kebiasaan buruk yang harus dihindari. Namun, apabila masih bingung, berikut hal-hal pokok yang perlu diperhatikan.

Pertama, jujur.  Kejujuran adalah fondasi utama agar manusia hidup bermartabat dan dihargai orang lain. Walaupun Anda mungkin bukan orang yang selalu jujur selama ini, tapi berusahalah menjadi jujur demi anak Anda. Kejujuran meliputi tidak suka berbohong, tidak suka korupsi dengan dalih apapun dan bangga pada harta yang didapat dengan cara halal walaupun sedikit.

Kedua, kerja keras. Kerja keras adalah kunci penting berikutnya dalam mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Kerja keras berarti tidak malas. Tidak malas untuk belajar, bekerja, dan beribadah.

Ketiga, taat perintah agama. Tunjukkan bahwa orang tua mentaati seluruh perintah agama. Setidaknya, perintah agama yang utama seperti rukun Islam yang lima (salat, puasa, zakat dan haji bila mampu).

Keempat, menjauhi larangan agama.  Menjauhi larangan agama sama pentingnya dengan menaati perintahnya. Larangan agama yang utama adalah berzina, mencuri (termasuk korupsi), minum alkohol, membunuh dan pemakaian obat terlarang.

Kelima, jangan bertengkar di depan anak.  Pertengkaran suami-istri sebisa mungkin dihindari. Dan kalau pertengkaran tak terhindarkan, jangan pernah melakukannya di depan anak.

Keenam,  jangan melakukan kekerasan dalam rumah tangga baik suami pada istri, atau ayah/ ibu pada anak.  Penggunaan cara kekerasan hanya akan membuat anak berfikir bahwa memukul dan menyiksa orang lain itu bukanlah sesuatu yang buruk. Sebaliknya jadikan sikap tegas tapi penuh kasih sayang sebagai cara mendisiplinkan anak.

Apabila orang tua sanggup melakukan hal-hal tersebut, mereka akan betul-betul menjadi  idola dan pahlawan keteladanan bagi buah hatinya.

 

Keteladanan Orang Tua bagian dari seri tulisan Pendidikan Islam untuk Anak Muslim
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah
Ponpes Al-Khoirot Putri Karangsuko Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: