Andi Hakim Nasoetion: Guru Besar Penabur Inspirasi

Tulisan ini dibuat sebagai ungkapan rasa terimakasih dan cinta kami dari lubuk hati terdalam kepada Pak Andi alm. atas segala buah pikiran, motivasi dan semangat, serta cita-cita yang Pak Andi alm. bagikan kepada kami.

HARI senin malam tanggal 4 Maret 2002 yang baru lalu kita melepas kepergian seorang ilmuwan yang intelektual menghadap Sang Pencipta. Tokoh ini telah turut membidani lahirnya ribuan bahkan puluhan ribu lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Beliau adalah Prof. Andi Hakim Nasoetion atau yang lebih sering dipanggil Pak Andi oleh para kolega dan murid-muridnya. Beliau pergi dengan meninggalkan berjuta kenangan, motivasi, dan cita-cita bagi para muridnya setelah menderita sakit kanker prostat dan gagal ginjal. Kedua pengasuh Rubrik ManDiri (Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel) adalah alumni IPB yang benar-benar merasakan jasa buah karya, keteladanan, dan inspirasi dari Pak Andi.

Pak Andi dilahirkan di Jakarta tanggal 30 Maret 1932. Meraih gelar Sarjana Pertanian dari Fakultas Pertanian IPB – yang pada masa itu masih bergabung dengan Universitas Indonesia – dengan predikat Cum Laude pada tahun 1958. Tahun 1961 mendapatkan beasiswa sebagai staf pengajar IPB untuk meneruskan studi pascasarjana di North Carolina State University Amerika Serikat sehingga berhasil meraih gelar tertinggi yaitu Doctor of Philosophy (PhD) bidang statistika eksperimental dan genetika kuantitatif tahun 1964. Karena sang ibu harus membiayai empat orang anak dalam keluarga setelah sang ayah meninggal, maka sejak di perguruan tinggi Pak Andi telah membiayai sendiri studinya.

Biaya untuk studi diperoleh Pak Andi dengan menjadi pegawai tugas belajar, guru SPMA Bogor, asisten mahasiswa, dan asisten luar biasa IPB sejak tahun 1952 hingga tahun 1960. Karir Pak Andi di bidang pendidikan terus melejit hingga menjadi Pejabat Dekan dan Dekan Fakultas Pertanian IPB pada tahun 1966 yang dijabatnya hingga tahun 1969. Tahun 1971, Pak Andi diangkat sebagai Guru Besar Statistika dan Genetika Kuantitatif IPB. Dengan demikian Pak Andi telah mencapai jenjang karir tertinggi yang dapat dirintis oleh seorang dosen.

Karir di IPB yang cemerlang adalah sebagai Rektor IPB pada tahun 1978, yang kemudian dijabatnya kembali hingga tahun 1987. Bahkan pada saat meninggalkan kursi rektor, Pak Andi mewariskan sesuatu yang sangat visioner yaitu Rencana Strategis IPB Menghadapi Tahun 2000.

Pak Andi merupakan pencetus program penerimaan mahasiswa tanpa tes (Proyek Perintis II, PMDK, atau yang lebih dikenal dengan nama USMI di IPB) – yang kemudian diikuti oleh beberapa universitas negeri lainnya seperti ITB, UI, dan UGM dalam rangka menjaring bibit unggul demi lahirnya sarjana-sarjana yang bermutu tinggi dari berbagai penjuru tanah air. Hal ini terwujud dalam motto IPB yaitu ”mencari dan memberi yang terbaik”. Sebuah motto yang kelihatannya sederhana namun memiliki arti yang sangat dalam.
Pak Andi, punya komitmen sangat tinggi terhadap IPB dan bangga dengan almamaternya serta amat peduli dengan kecerdasan anak bangsa sebagai sebuah aset bagi tercapainya cita-cita bangsa. Namun yang lebih penting dalam menilai keberhasilan seorang guru adalah keberhasilan muridnya. Alumni IPB berhasil dibekali dengan kemampuan nalar yang tinggi sehingga mampu beradaptasi di berbagai bidang.

Di masa yang penuh ketidakpastian ini, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi menjadi bekal sukses yang luar biasa nilainya. Saat ini lulusan hasil gemblengan tangan dingin Pak Andi baik secara langsung maupun tak langsung telah merambah ke berbagai bidang usaha – mulai dari wartawan, bankir, guru/dosen bahkan penyanyi – hingga IPB acap diplesetkan sebagai Institut Pleksibel Banget, Institut Pinansial (atau Perbankan) Bogor, Institut Pemasaran Bogor, Institut Publisistik Bogor, dll. Ekonom kondang seperti Didik Rachbini dkk dari Indef, Martin Panggabean (Bank Mandiri), Tubagus Feri (CSIS), pakar pemasaran seperti Handito (MarkPlus), Asto Subroto (MARS / InLIne), tokoh pers seperti pimpinan redaksi Kompas, petinggi Republika, dan tokoh bisnis seperti Dirut BCA, Dirut Astra Graphia adalah sebagian dari teladan alumni IPB yang berhasil di bidangnya. Tentu saja ada alumni IPB juga mencakup tokoh pertanian seperti Prof. Bungaran Saragih.
Meski dalam ukuran banyak orang Pak Andi sudah berhasil di bidangnya (dibuktikan dengan penerbitan banyak tulisan tentang statistika di jurnal internasional – sebuah prestasi yang patut mendapatkan acungan jempol mengingat masih sedikit para sarjana Indonesia yang mau dan mampu menulis dengan baik di luar penulisan skripsi, tesis, atau disertasi mereka), menurut pengakuan Pak Andi sendiri bidang pendidikan yang membesarkan namanya agak menyimpang dari skenario awal dirinya sendiri ataupun sang dosen promotornya yaitu menjadi Ilmuwan Statistika terkenal di dunia.
Kepemimpinan Pak Andi merupakan hasil dari proses pembelajaran pribadi yang terus menerus tergembleng sejak masa remaja dengan terlibat aktif dalam beragam perkumpulan. Dosen IPB yang terkenal serius ini menurut penuturan muridnya cara berbicaranya memang agak sulit diikuti (perlu konsentrasi penuh untuk menangkap kata-katanya, karena mungkin saat berbicara, bibir beliau kurang terbuka). Selain itu, pemikirannya yang jauh ke depan membuat hanya sedikit orang yang langsung mampu merekam dan mencerna segala yang diucapkannya. Walaupun demikian, tak jarang Pak Andi melontarkan ”humor-humor kelas tinggi dan serius” yang membuat pendengarnya tertawa belakangan setelah mereka berhasil mengerti. Itu pun setelah Pak Andi terbahak-bahak sendiri dengan lelucon yang barusan dilontarkannya.
Dalam beberapa tulisan Pak Andi yang pernah dirangkum dalam sebuah buku dan kemudian diterbitkan dengan judul Daun-Daun Berserakan: Percikan Pemikiran Mengenai Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan, tampak jelas ambisi dan cita-citanya. Ambisi dan cita-cita yang selalu terpatri erat dalam tiap benak sebagian besar muridnya yang membuat banyak muridnya tampil ke depan pentas keilmuan dengan beragam keahlian. Pak Andi bercita-cita akan terwujudnya sebuah perkumpulan masyarakat keilmuan, tempat memupuk persaudaraan dan perkembangan ilmu. Sebagai ”pabrik otak” bagi pembahasan dan penyebaran ilmu dan pengalaman dari satu orang kepada yang lainnya dan juga kepada khalayak ramai. Pak Andi juga mendorong dan memotivasi banyak muridnya untuk terus menyebarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam bentuk tulisan ilmiah populer dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna. Hal ini penting untuk menjembatani para ahli dari pelbagai bidang ilmu sehingga mereka mampu menghasilkan sebuah karya yang komprehensif, yang membumi dan mudah untuk diaplikasikan. Sebuah cita-cita yang amat mulia !
Saya pribadi merasa amat bangga ketika Pak Andi berkenan memberi ulasan di sampul belakang dari sebuah buku saya (Rahasia MANEKIN: 40 Kiat Sukses di Bidang MANajemen, Ekonomi, Keuangan, dan INvestasi) yang terbit tahun 2001. Terlebih bangga lagi ketika akhir tahun 2001 beliau meminta saya untuk berganti memberi ulasan sampul belakang pada bukunya yang semula rencananya akan terbit tahun 2002 ini. Namun, manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Ketika Senin malam 4 Maret 2002, saya menerima SMS dan telepon dari beberapa rekan alumni IPB, mengabarkan kepergian Prof. Andi Hakim Nasoetion, saya tak kuasa menahan rasa haru saya. Sehari sebelumnya (Minggu sore, 3 Maret 2002) ketika saya dan isteri menjenguknya di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, beliau menggenggam tangan saya secara erat seolah tak mau melepaskannya, dan mencium buku kami (Control Your Life, yang merupakan kumpulan rubrik ManDiri ini) persembahan saya kepada beliau sebagai tanda terima kasih. Beliau memang terlihat sudah terlalu lemah untuk berbicara. Meski komunikasi terjadi tanpa kata-kata, saya tak kuasa menahan haru. Kehangatan hati nurani beliau saat itu sebagai seorang guru yang sangat mengasihi muridnya sangat terlihat dari bahasa tubuhnya khususnya genggaman tangan dan tatapan matanya yang begitu lembut.
Beberapa waktu sebelumnya, Pak Andi, Aribowo, dan saya sempat bertukar e-mail tentang beberapa hal yang mengganjal hati beliau mulai dari masalah pendidikan, lingkungan, sampai pada masalah politik. Memang tidak semua visi dan misi beliau sempat terlaksana selama hidupnya. Namun satu hal yang pasti, bahwa jasa beliau akan selalu dikenang oleh banyak orang, atau paling tidak di hati seorang muridnya yang merasa banyak terinspirasi oleh kiprah beliau sampai akhir hayatnya.

Selamat jalan Pak Andi Hakim Nasoetion. Mohon maaf kalau kami belum bisa memenuhi semua harapan Bapak. Meski Bapak telah pergi, tetapi semangat yang Bapak wariskan akan selalu hidup di hati kami. Dari lubuk hati yang paling dalam, muridmu Roy Sembel dan Aribowo Prijosaksono.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: